PT VALENSI CAHAYA PERSADA

Gd. TBIC No.10.1, Puspiptek,

Jl. Raya Puspiptek - Gunung Sindur,

RT.01 RW.04 Kel. Pengasinan

Kec. Gunung Sindur. Kab. Bogor

Jawa Barat 16340

Telp 021-7560562 ext.6653/6654 

Email: caturk4448@gmail.com,

catur.ceo@valexfolifix.com

CaturKurniawan Seorang Technopreneur Ciptakan Kap Lampu Bongkar Pasang

RASIO pertumbuhan wirausaha baru yang ideal adalah 8-11 pengusaha baru dalam 100 jumlah penduduk dalam satu wilayah. Namun kenyataan rasio pertumbuhan wirausaha baru di Indonesia masih kecil, yaitu sekitar 2-3 orang pengusaha baru dalam 100 jumlah penduduk.

Sehubungan dengan itu, salah satu instansi pemerintah yaitu Kementerian Riest, Teknologidan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui PUSPIPTEK (Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) mendorong untuk tumbuhnya wirausaha baru yang berbasis teknologi atau biasa dikenal technopreneur.

Guna menumbuhkan wirausaha baru tersebut, di PUSPIPTEK itusendiri ada salah satu unit kerja yang membina dan memfasilitasi para calon wirausaha baru untuk menjadi pengusaha sukses, professional dan berdaya saing. Unit kerja yang dimaksud yaitu Technology Business Incubator Center (TBIC) PUSPIPTEK.

Masih minimnyapertumbuhan wirausaha baru di dalam negeri ini, telah mendorong seorang pria kelahiran Kota Kembang Bandung, 1 Mei 1974 untuk melakukan inovasi teknologi dalam pembuatan kap lampu yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat luas, yaitu berupa kap lampu bongkar pasang. Produk kap lampu yang dihasilkannya ini berkat ketekunan dalam melakukan inovasi teknologi. Pasalnya kap lampu yang diproduksinya itu sangat beda sekali dengan produk sejenis yang dibuat secara konvensional, karena simple dan bisa dibongkar pasang, sehingga pemasangannya pun mudah dan tidak memakan tempat luas dalam penyimpanan maupun pendistribusian kepada pelanggan.

Pria yang dimaksud adalah Catur Kurniawan, yang kini menjadi pelaku wira usaha dengan nama bendera perusahaan PT Valensi Cahaya Persada (VCP). Catur sendiri mengaku tertarik menekuni dan mempelajari bidang teknik dan dia pun melanjutkan sekolah ke STM 1(Sekolah Teknologi Menengah Negeri) Bandung, bidang pengolahan logam dan listrik.

Ilmu dan keterampilan yang didapat di STM I Bandung ini,kata Catur dinilai belum cukup. Akhirnya Catur pun melanjutkan ke perguruan tinggi, yaitu di Universitas Pendidikan Bandung dan lulusdengan gelar sebagai Sarjana Teknik Mesin. Catur yang haus akan ilmu pengetahaun ini pun melanjutkan kembali pendidikannya di program pasca sarjana, Magister Teknik dan Manajemen Industri di ITB.

Berkat ilmu dan pengetahuan dibidang teknik yang digeluti serta melakukan inovasi-yang tidak pernah berhenti ,akhirnya diciptakan produk kap lampu yang bisa dibongkar pasang dan praktis dalam pemasangannya. Produk lampu yang dibuatnya itu diberi label merek VALEX FOLIFIX.

“Valexfolifix (Valensi material extrusion for lighting fixtures, sebuah brand produk terbaru yang dikembangkan dari inovasi DFA (Desain For Assembly) dan DFM ( Desain For Manufacturing) canggih yang memungkinkan pelayanan tercepat pada pelanggan di industri kap lampu,” ujarCatur kepada Sentra Elektrik di workshopnya di TBIC (Technology Business Incubation Centre) Puspiptek BBPT, Jalan Puspiptek Serpong-Gunung Sindur, Bogor, baru-baru ini.

Catur mengatakan lebih lanjut, kap lampu yang diproduksinya itu menggunakan bilah-bilah spare part ekstrusi yang dibubuhi ikatan kunci pada koordinat-koordinat potongan transversal yang diperoleh dari optimization method dengan melibatkan 66 baris algoritma berkonstrain komplek beriterrasi,sehingga menghasilkan lima part knock down yang dapat dirakit agar bertranspormasi menjadi ratusan lampu LED-TL yang pernah dikenal dipasar.

Menurut Catur, pada prinsipnya kap lampu yang diproduksinya itu cukup sederhana, hanya memerlukan lima suku cadang sebagai materialmya dan mesin potong, mesin bor serta obeng. Tapi dari bahan-bahan dan peralatan yang sederhana ini mampu dihasilkan ratusan tipe atau model kap lampu yang berkualitas.

Ide teknologi dengan inovasi yang diterapkan Catur itu ternyata terpilih menjadi salah satu binaan atau tenan TBIC Puspiptek BPPT- Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Berkat inovasi teknologi yang disampaikan saat presentasi dalam penjaringan peserta binaan inkubator bisnis di TBIC, Catur pun akhirnya dinyatakan lolos dan berhak mengikuti programpembinaan inkubator bisnis di TBIC Puspiptek pada tahun 2017.

Selama menjadi tenan TBIC ini, Catur pun mendapatkan fasilitas berupa workshopuntuk kegiatan produksi, pendanaan dan pengujian produk di laboratorium di lingkungan Puspiptek.

Catur sendiri dalam menjalankan kegiatan wirausahanya itu dibantu oleh 7 orang, termasuk bagian produksi, administrasi, sales & marketing. Walaupun baru berjalandua tahun dalam pembuatan kap lampu bongkar pasang tersebut, perlahan namun pasti sudah mulai dikenal masyarakat untuk memesannya.

Pada kesempatan itu Catur mengemukakan, pihaknya juga tidak hanya menjual produk kap lampu yang sudah jadi, melainkan juga menawarkan kerjasama kemitraan bisnis dengan konsep waralaba.

“Dengan konsep waralaba ini semua mitra bisa memulai menjadi wirausaha baru dibidang pembuatan dan pemasaran kap lampu bongkar pasang. Para calon mitra tinggal bergabung dengan kami di PT Valensi Cahaya Persada untuk bersama-sama mengembangkan bisnis kap lampu yang potensi pasarnya cukup luas. Adapun untuk modal kemitraan waralaba ini diperlukan investasi sekitarRp.7-10 juta,” jelas Catur, yang juga dosen di beberapa perguruan tinggi.

Salah seorang pengelola TBIC Puspiptek, Ganang Sukocodi kantornya di Jalan Raya PUSPIPTEK Serpong, Gunung Sindur, menjelaskan kehadiaran TBIC PUSPIPTEK ini selain menjadi satu langkah untuk menjadikan Puspiptek sebagai Nation-Science & Technology Park (N=STP) dan ikut berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional lokal berbasis inovasi teknologi.

“Di sisi lain TBIC diharapkan menjembatani sinergi antara lembaga litbang yang ada di Puspiptek dengan pelaku usaha,” ujar Ganang.

Dikatakan Ganang, pemerintah berusaha untuk menumbuhkembangkan kewirausahaan di masyarakat, khsusunya generasi muda dalam rangka meningkatkan IKM/UKM yang diharapkan menjadi lokomotif peningkatan daya saing perekonomianbangsa.

“Penumbuhkembangan wirausaha berbasis teknologi antara lain dilakukan melalui inkubasi bisnis teknologi, yaitu proses pendampingan dan fasilitas kepada calon wirausaha, sehingga menjadi IKM yang mampu berdiri sendiri dan berdaya saing,” ujar Ganang.

Sejalan dengan itu, ucap Ganang, Kemenristekdikti menggagas berbagai program dalam rangka hilirisasi iptek dari lembaga litbang/ peguruan tinggi ke dunia usaha, penciptaan produk inovasi serta penumbuhan perusahaan pemula berbasis teknologi (PPBT). Salah satunya program tersebut dilaksanakan oleh Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), melalui kegiatan fasilitas inkubasi bisnis teknologi di Puspiptek.

“Kegiatan ini sejalan dengan masterplan revitalisasi Puspiptek dan Pengembanagn I-STP, antara lain menjadikan Puspiptek sebagai pusat pengembangan kewirausahaan berbasis teknologi,” tutur Ganang.

Ganang menambahkan, pada 2016, Puspiptek mulai menjalankan program layanan inkubasi bekerjasama dengan incubator-incubator yang telah ada melalui penyediaan anggaran dan fasilitas bagi pelaksanaan inkubasi bisnis teknologi di TBIC Puspiptek. (Lili Supaeli)

Hai!
Buat situs web Anda sendiri seperti yang saya lakukan.
Mudah dan benar-benar gratis.
Iklan